New Year, New Paradigm
Natal memang sudah lewat. Tapi paradoks dari makna Natal yang sesungguhnya, dengan Natal yang dunia rayakan, menjadi kunci penting yang harus kita pahami untuk berdampak bagi kehidupan.
Dunia mengenal Natal yang memberi hadiah hanya bagi anak baik, tidak dengan mereka yang nakal. Tapi Natal sejati ialah Anak Tunggal Bapa diberikan jadi Hadiah bagi dunia, anak-anak yang bukan cuma nakal tapi tak terkecuali semua telah jauh tenggelam dalam dosa.
Belum lagi kelahiran Yesus yang memilih lahir dari seorang wanita biasa bukan wanita terpandang yang kaya raya. Yang Mulia lahir di kandang domba, bukan di istana raja. Kedatangan bala tentara sorga kepada kaum gembala yang miskin bukan para relijius elit. Semua paradoks Natal ini membawa kebenaran pada kita, bahwa konsep kerajaan Allah berlawanan dengan dunia.
Tuhan sanggup melakukan hal besar melalui hal kecil. Yang tidak dipandang dunia, justru berharga di mataNya. Yang berdosa dianggap menjijikan, justru Tuhan kasihi dan IA datang demi menyelamatkan kita para pendosa itu.
Maka memasuki tahun baru, kita harus terus diperbaharui dengan paradigma yang benar.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Roma 12:2
Jika umumnya di tahun baru dunia mempunyai banyak resolusi bagi diri sendiri, bagaimana dengan kita? Apakah kerinduan dan harapan kita memasuki tahun yang baru ini? adakah berpusat pada Tuhan dan kehendakNya?
Sebab semua orang di dunia ini mengejar kesuksesan bagi diri mereka pribadi. Namun anak Tuhan mestinya mengerti, kesuksesan adalah hidup dengan tujuan melakukan kehendak Bapa, seperti Yesus yang taat sampai di kayu salib, menggenapi tujuan kedatanganNya.
Kata Yesus kepada mereka: ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Yohanes 4:34
Selamat tahun baru 2025, semuanya!