Spectacular as Walking on The Water
Membaca kisah Yesus berjalan di atas air, di mana Petrus berhasil mengikutinya, mungkin terdengar muluk bagi sebagian kita. Mukjizat yang kita pikir tidak akan pernah kita alami. Namun sadarkah kamu, dengan segala yang ada padamu sekarang ini, kebenarannya semua anugerah itu melebihi kapasitasmu yang sesungguhnya. Kita yang masih sering berbuat salah, malas, ceroboh, dipercayakan banyak hal. Bukankah Tuhan membawamu seperti berjalan di atas air?
IA yang memilih dan memanggilmu keluar dari kapal seperti Petrus. Jika kamu menyadarinya, sebuah lompatan untuk keluar dari kenyamanan, dari hidup bagi diri sendiri, menjadi hidup yang bermisi.
Maukah kau menjawab panggilanNya? Tidak harus pindah haluan kapal menjadi pendeta, tetaplah sebagai suami/ayah/istri/ibu/anak/pelajar/pekerja yang hidup menjawab panggilan Tuhan.
Dari kapal tempatmu berada, langkahkan kaki di atas air. A little step but spectacular indeed. Mengambil jalan yang sebenarnya mustahil bagi manusia berdosa, untuk hidup tidak bagi dirinya sendiri. Akan bergesekan dengan kepentingan orang lain di dunia yang egosentris ini. Menghadapi badai pengkhianatan, ketidakadilan, kejahatan. Dan kita dipanggil untuk meresponi semuanya seperti Yesus. Berjalan di atas air.
Kunci Petrus dapat melakukannya, ia mengarahkan pandangan tetap kepada Yesus. Ketika fokusnya teralih, Petrus mulai goyah dan tenggelam. Namun lagi-lagi, lihat Siapa yang menariknya kembali.
“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Mengikut Yesus, jangan lepaskan pandangan daripadaNya. Tetaplah percaya kepadaNya. Sebab Yesus yang akan terus mempertahankanmu, membawa imanmu pada kesempurnaan sampai hari terakhir. Jesus is The Founder and The Perfecter of our Faith.
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”
Pada akhirnya nanti tetaplah ingat, seperti kemampuan Petrus berjalan di atas air bukan berasal dari dirinya sendiri, Yesus-lah yang buat keajaiban baginya. Terbukti tanpa bersama Yesus, Petrus tidak pernah tercatat dapat melakukannya lagi. Begitupun dengan kita, ketika kita mampu melampaui badai hidup dalam ketaatan bak berjalan di atas air, itu semata bukan karena kuat dan gagah kita, melainkan karena ada TanganNya yang menopang. Jangan juga mencari pujian pribadi, tetapi supaya para saksi hidup, mengakui Yesus yang bekerja dalam hidup kita adalah Tuhan Sejati.
“Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ”Sesungguhnya Engkau Anak Allah.””