Jesus’ Kingship
“If anyone, then, knows the good they ought to do and doesn’t do it, it is sin for them.”
Pernah kah kita merasakan rasanya ketika menegur orang lain yang sedang melakukan hal yang salah, misalnya tetap memakai sepatu di ruangan yang tidak boleh pakai sepatu, lalu orangnya betulan tampak kaget, menunjukkan wajah menyesal, lalu langsung melepaskan sepatunya? Pasti rasanya lebih adem di hati kan? Karena orang itu memang betul-betul tidak tahu aturannya, dan humble enough untuk mau langsung memperbaiki perilakunya. Nah sekarang, bayangkan scenario sebaliknya. Orangnya sudah tahu aturannya, tapi tetap ngeyel memakai sepatu. Ketika ditegur, malah marah-marha balik. Rasanya jauh lebih menyebalkan dan bikin bad mood. Namun, sadarkah kita bahwa seringkali, kita pun demikian dalam berbagai aspek hidup lain?
Come on lah. Di era kelebihan informasi sekarang ini, sudah sulit untuk bisa klaim: “Kan gw gak tau gak boleh begini atau begitu!” Tidak mungkin kita tidak tahu kalau naik motor harusnya pakai helm, tapi terkadang kita bandel anyway. Sudah tahu merokok itu tidak oke untuk paru-paru DAN kesehatan orang-orang di sekitar, tapi banyak yang tetap “willfully” bandel dan bodo amat juga.
Dan, come on lah (1), kita orang Kristen juga MOSTLY sudah tahu apa yang menyenangkan dan memilukan hati Tuhan. Akses ke renungan, ibadah, short-reels snippet khotbah, dan lain sebagainya sudah kita bisa akses.
Let’s not kid ourselves. We already know (at least, partly know) His heart. Never forget that while He is our Best Friend, He is also our King. Under His dominion, we should submit and obey His rules. The biggest question of all is, how much are we willing to obey?
Mulai dari hal kecil dulu saja. Paham etika, jangan lakukan yang kita tidak ingin orang lain lakukan ke kita, jangan jadi batu sandungan kepada sekitar kita. Start from there. We are only true Christians, if we are Christ-like. Be the good representative of His “King”dom, folks.