Safe in His Arms
“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.”
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada merasa ditinggalkan atau diabaikan, apalagi oleh orang-orang yang paling kita percayai. Mazmur 27:10 mengakui sebuah realita pahit: bahkan kasih orang tua pun, yang biasanya dianggap paling kuat di dunia, bisa saja gagal. Namun justru di titik inilah kita menemukan penghiburan terbesar ada satu kasih yang tidak pernah gagal, kasih Tuhan.
Kasih manusia bisa berubah, bisa berkurang, bahkan bisa hilang. Tetapi kasih Tuhan tidak mengenal batas waktu, keadaan, maupun kegagalan kita. Ketika semua pintu dunia terasa tertutup, Tuhan justru membuka pintu-Nya lebar-lebar dan berkata, “Aku menyambutmu.” Kita aman dalam pelukan-Nya.
Bayangkan seorang anak kecil yang ketakutan, berlari ke arah ayahnya. Begitu masuk ke pelukan sang ayah, rasa takut itu sirna karena ia tahu ia terlindungi. Begitu jugalah kita di hadapan Tuhan—apapun luka, penolakan, atau kesepian yang kita alami, kita selalu punya tempat aman di dalam kasih-Nya.
Pelukan Tuhan tidak hanya memberi rasa aman, tetapi juga memulihkan hati yang hancur. Ia tidak sekadar menyembunyikan kita dari rasa sakit, tetapi mengisi kekosongan terdalam dalam jiwa kita dengan kasih yang meneguhkan. Di dalam hadirat-Nya, kita menemukan identitas yang utuh, kita adalah anak-anak yang dikasihi tanpa syarat.
Ketika dunia mengukur kita dari pencapaian, penampilan, atau penerimaan orang lain, Tuhan memandang kita dengan mata kasih yang berbeda. Ia berkata bahwa kita berharga bukan karena apa yang kita lakukan, tetapi karena siapa kita di dalam Dia. Inilah jaminan yang membuat kita dapat berjalan dengan damai karena di manapun kita berada, kita selalu aman dalam pelukan-Nya.