Fondasi yang Kokoh di Dalam Kristus
Tidak semua hubungan yang terlihat kuat benar-benar memiliki dasar yang benar. Ada hubungan yang tampak rohani, penuh pelayanan, penuh kata-kata manis, tetapi ketika badai datang, semuanya runtuh.
Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”-Matius 7:24.
Batu itu bukan perasaan. Bukan kecocokan karakter. Bukan visi masa depan yang sama. Batu itu adalah Kristus sendiri.
“Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”
Fondasi hubungan yang sehat dimulai dari satu pertanyaan jujur: Apakah Kristus pusatnya, atau hanya tambahan?
Ada 3 hal yang perlu kita sadari:
1. Identitas sebelum “kita”
Sebelum Tuhan membangun “kita”, Dia membentuk “aku”.
Banyak hubungan gagal bukan karena kurang cinta, tapi karena dua pribadi yang belum utuh saling mencari identitas. Jika kita tak sadar sudah dikasihi penuh oleh Tuhan, kita akan menuntut pasangan mengisi kekosongan. Hubungan kokoh lahir dari dua orang yang aman dalam kasih Tuhan.
2. Kasih yang berkorban
Dunia: cinta adalah perasaan.
Alkitab: kasih adalah karakter.
“Kasih itu sabar, murah hati… tidak mencari keuntungan diri sendiri.”-1 Korintus 13:4–5
Kasih diuji saat konflik.
Apakah ingin menang, atau memulihkan?
Cepat mengampuni, atau menyimpan luka? Tanpa doa dan Firman, hubungan mudah dikuasai ego dan asumsi.
3. Komitmen: covenant, bukan kontrak
Kontrak: bertahan selama nyaman.
Covenant: memilih setia saat musim berubah.
Komitmen bukan menoleransi dosa, tetapi memilih bertumbuh bersama.
Hal yang perlu kita renungkan:
• Bagaimana hubungan pribadi aku dengan Tuhan? Apakah sudah sesuai dengan kemauan dan kehendak Tuhan?
• Apakah hubungan ini membuatku lebih dekat kepada Tuhan, atau justru lebih jauh?
• Apakah aku mencintai dari kelimpahan kasih Kristus, atau dari ketakutan kehilangan?
Karena fondasi yang kokoh bukan tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan menjadi pribadi yang berakar dalam Kristus terlebih dahulu.