Wisdom Has a Name, and His Name is Jesus
We just can’t get any Godly wisdom for our relationship without God Himself.
Hubungan kita dengan sesama ibarat buah, hasil dari hubungan kita dengan Tuhan yang bertumbuh. Adalah mustahil kita mau berbuah, tanpa berakar apalagi terputus dari Sang Pokok (Yohanes 15:5). Intinya, sebelum terhubung dengan Tuhan, tidak hanya hubungan asmara yang terancam gagal, semua bentuk hubungan dengan sesamamu di dunia ini rawan rusak.
Bayangkan manusia dengan segala kompleksitasnya, berinteraksi dengan manusia lain yang masing-masing memiliki karakter, kehendak, kepentingan, dan latar belakang berbeda. Kenyataan ini jelas memicu konflik besar maupun kecil. Bagaimana menyikapi mereka yang berbeda, atau bahkan menyakiti kita? Secara daging, kita pasti tidak suka, ingin marah, atau jikalau mungkin membalas kejahatannya. Respon yang sama sekali tidak membawa pemulihan, bukan? Perselisihan semakin memanas dan hubungan pasti retak.
Tak perlu jauh dulu berperkara dengan orang lain, terhadap diri sendiripun, kita kerapkali menghadapi konflik batin. Kita kian merasa iri jika ada orang yang terlihat hebat, pantang memuji tapi gampang mencela, susah melihat orang senang, sebaliknya senang melihat orang susah. Sikap hati yang salah, tapi secara natural muncul.
Inilah mengapa kita membutuhkan Tuhan. Ia yang mampu mengubah hati kita yang busuk menjadi baru (Yehezkiel 36:26-27). Bukannya jadi kebal dosa dan tidak dapat berpikir salah lagi, melainkan koneksi pada Tuhan, memberikan akses penuh padaNya untuk mengingatkan, mengoreksi, bahkan memampukan kita berbuat benar.
Seseorang yang memiliki hubungan lekat dengan Tuhan, akan memiliki gambar diri yang benar:
Ia dikasihi sebagaimana adanya.
Setiap orang termasuk dirinya memiliki kelebihan yang berbeda, namun semua spesial.
Rezeki masing-masing telah aman diatur dalam Tangan Yang Kuasa.
Percaya segala keberadaan dirinya termasuk masa lalu dan lingkungan, ada dalam rancangan mulia.
Gambar dalam diri yang pulih, akan memulihkan hubungan yang lain di luar. Membuatnya secure terhadap keberhasilan orang lain, dapat bersukacita dengan mereka yang bersukacita, dan menangis dengan mereka yang menangis.
Membuatnya dapat meresponi perlakuan orang lain dengan bijaksana, sehingga hubungan yang ada tidak rusak oleh intuisi sesaat. Mari ingat selalu rumus ini:
“Berawal dari Tuhan —> pemulihan diri —> hubungan antar manusia yang pulih”
Don’t skip any of it, and you’ll have a cherished life!