Hati Bapa
Di tengah dunia yang menggaungkan childfree, sesungguhnya ada hal besar yang mereka kerap lewatkan. Lebih dari sekadar kesempatan untuk memiliki keturunan sebagai buah cinta, melainkan mereka sedang kehilangan kesempatan untuk menyelami hati Bapa. Namun bagaimana dengan mereka yang mati-matian ingin memiliki anak, tapi kabar baik itu tak kunjung tiba? Jangan berkecil hati, memiliki anak rohani sedikit banyak juga dapat membukakan hal ini.
Seperti ketika akhirnya saya diizinkan mempunyai anak, banyak dimensi baru yang Tuhan bukakan. Saya dibuatnya makin mengerti kedalaman hati Bapa. Jika saya manusia yang jahat saja begitu mengasihi anak saya, terlebih Bapa di Sorga. Saya jadi percaya kasihNya yang tak bersyarat. Sebelum anak saya bisa berprestasi, ia baru saja lahir dan malah merepotkan, saya sudah bangga padanya sebab ia anak saya, dan saya mengasihinya lebih dari diri saya sendiri. Apapun rela saya berikan untuknya.
Termasuk merelakan seluruh tabungan kami ketika ia melakukan sebuah kesalahan besar yang tidak disengaja. Ya, anak yang bersalah, tapi tetap orangtua yang dengan rela hati bertanggung jawab atasnya. Kembali membukakan sebuah kenyataan tentang bagaimana kasih Agape Bapa. Kita anak-anak yang telah melakukan banyak sekali hal mengecewakan, tetap kasihNya tak pernah berhenti. Bahkan sefatal maut yang jadi konsekuensi, rela ditanggungNya.
Di musim Natal ini, dapatkah kitapun melihat kasih Bapa? Bapa yang merelakan AnakNya yang Tunggal, jadi Tebusan ganti anak-anakNya yang bengal.
Berbicara tentang bapa menyerahkan anak, jadi teringat akan Abraham bapa orang beriman.
Mengapa Tuhan menguji Abraham dalam kerelaannya mempersembahkan Ishak? Karena Bapa di Sorga rela. Dan Abraham diizinkan menjadi gambaran betapa pedihnya Hati Bapa, menyerahkan Sang Anak.
Dalam kisah hidup Abraham, Ishak tidak jadi dikurbankan, karena ada Anak Domba pengganti.
Sementara Anak Allah benar-benar jadi dikurbankan, demi kau dan saya.