Kasih Seorang Ayah Sebelum Anak Lahir
Bayangkan seorang ayah yang sangat mengasihi anaknya. Sebelum anaknya bahkan dilahirkan, ayah ini sudah merencanakan hadiah yang paling indah untuk anaknya. Dia mulai menabung uang, membeli bahan-bahan terbaik, dan merancang hadiah tersebut dengan penuh kasih. Ayah ini tahu persis apa yang dibutuhkan anaknya, meskipun anaknya belum ada di dunia ini.
Waktu demi waktu berlalu, dan akhirnya anak itu lahir. Ketika anak itu lahir, ayah dengan sukacita memberikan hadiah tersebut kepada anaknya. Anak tersebut, meskipun tidak tahu apa-apa tentang usaha ayahnya, menerima hadiah itu dengan penuh kebahagiaan.
Di mata anak itu, hadiah yang diberikan adalah sesuatu yang berharga, tetapi ayah tahu lebih dari sekadar hadiah itu. Hadiah itu adalah bukti dari kasih yang sudah ada jauh sebelum anak itu tahu apa-apa. Kasih ayah tersebut tidak dimulai pada saat anak itu lahir atau berbuat baik, melainkan sudah ada sejak jauh sebelum itu—dalam perencanaan yang penuh kasih dan perhatian.
Seperti ayah dalam perumpamaan di atas, Allah juga merencanakan kasih-Nya untuk kita sebelum kita bahkan ada di dunia ini. Dalam Efesus 1:4-6, kita diajarkan bahwa Allah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia ini dijadikan, supaya kita dapat hidup dalam kasih-Nya, menjadi anak-anak-Nya, dan hidup untuk memuliakan nama-Nya.
Allah sudah memilih kita dengan kasih yang tak terhingga jauh sebelum kita dapat berbuat apa-apa untuk-Nya. Kasih-Nya bukanlah sesuatu yang tergantung pada perbuatan atau pilihan kita, tetapi sepenuhnya berasal dari kehendak-Nya yang baik dan penuh anugerah.
Kasih Allah kepada kita adalah hadiah yang luar biasa, yang datang bukan karena kita pantas, tetapi karena kasih-Nya yang tidak terbatas.
Ini adalah kasih yang tak tergantung pada waktu atau keadaan kita, dan seharusnya memberi kita rasa aman dan penuh syukur.