Delay, Not Denial

Pernah nggak, kamu berdoa dengan sungguh-sungguh, air mata sudah jatuh, iman sudah dikerahkan, tapi jawabannya… sunyi. Nggak ada pintu kebuka. Nggak ada tanda-tanda. Yang ada cuma kata: “tunggu.”

Dan jujur aja, waiting season itu capek. Bikin overthinking. Bikin kita mulai bertanya, “Tuhan dengar aku nggak sih?” atau lebih parah, “Apa aku nggak cukup layak?”

Tapi satu hal penting yang sering kita lupa: penundaan bukan penolakan.

Delay is not denial.

Alkitab penuh dengan cerita orang-orang yang doanya “nggak langsung dijawab.” Abraham menunggu puluhan tahun untuk janji Tuhan. Yusuf harus lewat sumur, dijual, dipenjara sebelum mimpi itu jadi nyata. Bahkan Yesus pun datang ke kubur Lazarus terlambat menurut standar manusia—tapi justru di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Masalahnya, kita hidup di era serba cepat. Pesan centang dua aja lama dibales bisa bikin hati panas. Jadi ketika Tuhan bekerja dengan ritme-Nya, kita mengira Dia tidak peduli. Padahal sering kali, Tuhan bukan sedang diam—Dia sedang bekerja di balik layar. He’s arranging things you cannot see yet.

Penundaan sering kali bukan soal Tuhan belum siap memberi, tapi kita belum siap menerima. Ada karakter yang masih dibentuk. Ada luka yang masih perlu disembuhkan. Ada motivasi yang perlu diluruskan. Karena kalau Tuhan mengabulkan terlalu cepat, berkat itu bisa jadi beban, bukan anugerah.

Tunggu itu bukan hukuman. Tunggu itu proses pemurnian.

Di masa menunggu, iman kita diuji: apakah kita tetap percaya meski belum melihat? Apakah kita tetap setia meski belum menerima?

Kalau hari ini kamu merasa Tuhan “lama,” ingat ini: Dia tepat waktu. Always on time.

Dan ketika waktunya tiba, kamu akan sadar—penundaan itu ternyata menyelamatkanmu dari banyak hal, dan mempersiapkanmu untuk sesuatu yang jauh lebih baik.

So don’t quit in the waiting.

Because what feels like delay might actually be divine preparation.

Previous
Previous

Di Antara Janji dan Waktu Tuhan

Next
Next

Latihan di Ruang Tunggu