Sungkan Tuh
Menegur dan ditegur bukanlah hal yang mudah. Saat menegur kita perlu melihatnya dari perspektif yang benar, yaitu kasih. Dengan menyadari penuh bahwa ketika menegur, kita melakukannya karena kita mengasihi orang tersebut.
Saat ditegur kita juga perlu melihatnya dari perspektif kasih, dengan menyadari penuh bahwa ketika ditegur, artinya kita dikasihi.
Tuhan juga melakukan hal yang sama dengan bangsa Israel sedari dulu, dengan mengutus nabi-nabi ditengah bangsa Israel untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membimbing dan menegur bangsa Israel. Teguran dan bimbingan yang dilakukan Tuhan melalui nabi kepada bangsa Israel dlikakukan karena Tuhan mengasihi mereka, Tuhan ingin melindungi umat-Nya dari berbuat dosa lebih jauh lagi.
Tuhan tidak mau tinggal diam membiarkan umat-Nya jauh dari pada-Nya. Tugas menegur itu dilakukan oleh nabi-nabi Tuhan tanpa rasa sungkan karena Tuhan sendirilah yang meneguhkan hati utusan-Nya untuk berbicara kepada bangsa yang tegar tengkuk tersebut.
Ibrani 12:6
Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Bisa bayangkan kalau nabi utusan Tuhan tidak menjalankan panggilannya karena sungkan? Mungkin bangsa Israel akan semakin jauh dari Tuhan, tenggelam dalam dosa, dan akhirnya mengalami hukuman yang lebih berat. Mereka bisa kehilangan bimbingan yang benar, tersesat dalam penyembahan berhala, dan menjalani hidup tanpa arah. Tanpa teguran dari para nabi, mereka tidak akan menyadari kesalahan mereka dan berbalik kepada Tuhan.
"Sungkan" berarti merasa tidak enak hati, canggung, atau segan dalam melakukan sesuatu, biasanya karena rasa hormat, takut menyinggung, atau tidak ingin merepotkan orang lain.
Jika sungkan muncul karena kita tidak ingin menyakiti perasaan seseorang, itu bisa mencerminkan kasih dalam bentuk kepedulian. Namun, jika sungkan membuat kita menghindari kebenaran dan membiarkan seseorang terus melakukan kesalahan, maka itu justru bisa menjadi bentuk ketidakpedulian.
Kasih sejati tidak hanya tentang menjaga perasaan, tetapi juga tentang berani menegur dengan lembut demi kebaikan orang lain.
Efesus 4:15
Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.