Don’t Rush
Ecclesiastes 3:1 AMP
There is a season (a time appointed) for everything and a time for every delight and event or purpose under heaven
Familiar dengan game Harvest Moon? Terutama Back To Nature, era legendaris PS1? Saya pernah bingung, kok nanem benih stroberi, tapi mati besoknya. Padahal sudah dirawat sebaik-baiknya. Oh ternyata, saya maksa menanam benihnya waktu musim gugur, padahal hanya bisa tumbuh di musim semi. Dari hal sesimpel ini saja, ada satu pembelajaran berharga dalam kehidupan, yaitu: Mau kita seniat baik dan maksimal apapun terhadap sesuatu, jika memang belum waktunya, ya tetap tidak bisa dipaksa. Kalaupun dipaksa, hasilnya tidak akan maksimal, atau malah menjadi hancur.
Mau ngajarin anak balita ilmu manajemen keuangan? Amsyong. Kalau tidak, tinggal tunggu waktu menjadi orang dengan masalah emosi. Beli baju bagus, tapi tidak muat. Mau dipaksa muat? Ya hancur bajunya. Padahal harus sabar dulu menurunkan berat badan. Mau kerja keras, tapi badan sudah lelah dan otak mumet. Harusnya itu waktu istirahat, entah itu bermain game atau rebahan saja. Mau coba dipaksa tetap mikir? Good luck deh.
In whichever season we’re in, enjoy the process. Yang single, jangan buru-buru pacaran. Fokus pengembangan dan mengenal diri dulu. Yang pacaran, jangan kebelet merit. Yang merit, jangan kebelet punya anak ketika belum ready. Mau menegur anak dengan keras, tapi kita lihat anaknya sedang sedih mendalam? Nanti saja, let them rest first.
Throughout the Bible, the theme of “picking the right timing” has always been one of the few main indicators of mature and wise people. Pick your battles and rests wisely. Be like Him, He is never too early and late.
Above everything, enjoy your present moment. Let moment be moment. Tugas kita adalah berusaha yang terbaik di masa kini, dan serahkan pada Tuhan untuk pertumbuhannya. Remember, resting is also a sign of trust towards God, because we know that He will take care of everything, even when we rest. Again, don’t rush.