Teguran Juga Kasih
Sering kali kita menganggap bahwa menerima segala sesuatu tanpa komentar adalah bentuk kasih yang sesungguhnya. Kita berpikir bahwa selama kita tidak menegur atau menasihati, maka kita sudah cukup mengasihi. Sebaliknya, ketika ada seseorang yang memberi nasihat atau teguran, kita cenderung merasa dihakimi dan tidak diterima.
Padahal kasih yang sejati bukan hanya soal menerima tapi juga berani mengingatkan ketika seseorang berjalan di jalur yang salah.
Seperti orang tua yang menegur anaknya agar tidak bermain api atau seorang sahabat yang memperingatkan kita saat kita hampir jatuh ke jurang.
Itu bukan penghakiman tetapi bentuk perhatian yang tulus.
Dalam Amsal 27:6 dikatakan “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang musuh mencium secara berlimpah-limpah.”
Teguran yang keluar dari kasih jauh lebih berharga daripada pujian kosong yang hanya menyenangkan hati.
Jadi ketika kita menerima teguran yang berdasarkan kebenaran jangan langsung menutup hati dan merasa tersinggung. Sebaliknya lihatlah itu sebagai bukti kasih yang nyata karena orang yang benar-benar peduli tidak akan membiarkan kita tetap berjalan di jalan yang salah.