Memeriksa Hati dan Motivasi
“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”
Memasuki awal tahun yang baru, wajar kalau kita sibuk menyusun rencana: target hidup, pekerjaan, pelayanan, bahkan resolusi pribadi. Kita ingin jadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Kita ingin hidup lebih benar, lebih berguna, lebih “berhasil”. Tapi di tengah semua niat baik itu, Tuhan mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya lebih dalam: bukan hanya apa yang kita lakukan, tapi dari hati seperti apa semuanya itu lahir.
Sering kali, tanpa sadar, kita merasa apa yang kita lakukan sudah benar. Kita melayani, bekerja keras, menolong orang lain, bahkan berkorban. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak baik di mata manusia belum tentu murni di hadapan Tuhan.
Ada kalanya motivasi kita tercampur ingin dipuji, ingin dianggap rohani, ingin diakui, atau sekadar ingin terlihat berhasil di mata orang lain.
Tuhan tidak sedang mencari manusia yang sempurna, tapi hati yang mau jujur di hadapan-Nya. Dia rindu setiap langkah hidup, pekerjaan, dan pelayanan kita digerakkan oleh kasih dan ketaatan, bukan oleh ego atau ambisi pribadi. Ketika motivasi kita diluruskan, hidup terasa lebih ringan. Kita tidak lagi sibuk membuktikan diri, karena kita tahu untuk siapa kita hidup.
Memeriksa hati memang tidak selalu nyaman. Tapi dari situlah Tuhan bekerja membentuk kita. Hati yang benar di hadapan Tuhan akan menghasilkan hidup yang berbuah, bukan karena kita hebat, melainkan karena Tuhan yang memimpin setiap langkahnya.
Di awal tahun 2026 ini, mari datang dengan hati yang terbuka. Bukan membawa daftar pencapaian, tapi membawa kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, ajari aku berjalan dengan motivasi yang benar.”