Fix Our Eyes

Fixing our eyes on Jesus, the pioneer and perfecter of faith. For the joy set before him he endured the cross, scorning its shame, and sat down at the right hand of the throne of God. Consider him who endured such opposition from sinners, so that you will not grow weary and lose heart.
— Hebrews‬ ‭12‬:‭2‬-‭3‬ ‭NIV‬

Endurance; Ketahanan; yang kita perlukan menghadapi tantangan hidup ini, hingga mampu setia sampai akhir. Buat apa berapi-api di awal, tapi padam di tengah jalan? So, ngapain semangat banget gitu mengikut Tuhan? Mending jadi orang tuh selow aja, yang penting nyampe juga ke sorga.

Gak gitu konsepnya ya. Kalau kita mengaku Kristen (pengikut Kristus) tapi “biasa” aja, “nyantai” aja gak usah terlalu rohani. Yakin kamu lagi sejalan sama Tuhan bukan sama dunia? Karena titik tujuan akhirnya akan beda nanti.

Yakin udah ikut perlombaan yang harusnya kita ikut di dalamnya? Atau tanpa sadar kita lagi berjalan santai di luar lintasannya?

Ayat sebelumnya bilang, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani‬ ‭12‬:‭1‬ TB)

Para pahlawan iman terdahulu, menantikan kita meneruskan perjuangan mereka; berlari menjawab panggilan Tuhan untuk hidup bagiNya. Tongkat estafet yang dioper dari mereka, sedang berada di tangan kita yang hidup di masa ini.

Yang sungguh mengenal Kristus, gak akan tahan hidup tanpa mengabdi kepadaNya.

Gak akan tahan gak jatuh cinta sama PribadiNya. Gak akan kuat menahan hasrat untuk membalas kasihNya.

Siapa yang gak semangat ketika sedang jatuh cinta? Gunung kan kudaki, lautan kusebrangi demi yang dicintai. Bukankah perasaan seperti itu yang harusnya kita miliki pada Pribadi Yang Terkasih?

Solusinya bukan jangan start sekuat tenaga (mengasihi Tuhan dengan segenapmu adalah kehendakNya), tapi jangan sampai tenagamu habis lalu berhenti sebelum finish. Roh Kudus yang digambarkan sebagai Lidah Api, yang akan menyalakan terus bahan bakarnya sepanjang perjalanan.

Jadi apakah tanggung jawab Roh Kudus untuk membuat kita bertahan? Tentu menjadi andil kita untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23). Dan jaga hati dimulai dengan menjaga mata agar berfokus pada arah yang tepat.

Fix our eyes on Jesus; how to build endurance.

Bukan kepada orang lain yang juga sedang berlari dalam panggilan, lalu malah galfok dalam perbandingan. Melainkan terus memandang kepada DIA Yang Memanggil.

Yesus tekun menanggung penderitaan yang begitu hebat, sebab mendambakan sebuah tujuan besar. Tujuan yang mendatangkan sukacita terlebih besar bagiNya, yaitu kita, umat tebusan yang akan dimenangkan karena salibNya.

Kini saatnya kita melakukan hal yang sama; memandang balik kepadaNya, sebagai Pribadi yang paling kita inginkan di garis akhir perlombaan iman. Bukan hadiah mahkota, bukan juga kehidupan kekal yang jadi hak milik, namun bisa bertemu muka dengan muka dengan Sang Penebus. Dia-lah Tujuan, Dia-lah Alasan, Dia-lah Harapan, Sumber energi ketahananku.

🎶 Christ is my Reward
And all of my devotion
Now there’s nothing in this world
That could ever satisfy
Through every trials, my soul will sing
No turning back, i’ve been set free
(Song: Christ is Enough, By: Hillsong Worship)

Previous
Previous

Hati yang Baru

Next
Next

42KM