42KM
“...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Coba cek Instagram atau TikTok hari ini. Kemungkinan besar, timeline kamu dipenuhi dengan screenshot rute Strava, outfit lari estetik, hingga antusiasme "war" tiket lari yang tak kalah sengit dari konser. Lari bukan lagi cuma olahraga; bagi banyak dari kita, ini jadi gaya hidup, simbol status, bahkan ajang FOMO.
Namun apa daya, banyak dari kita terbiasa serba instan. Kita memperlakukan hidup macam sprint: meledak-ledak di awal, lalu ambruk kehabisan napas di tengah jalan karena mental kita tidak siap.
Paulus menggambarkan perjalanan iman bukan sprint, tapi maraton. Kuncinya adalah "berlomba dengan tekun" (Yunani: ὑπομονή / hupomone, arti: endurance).
Untuk itu, mari kita coba hal berikut:
Kenali Pacemu Di dunia yang bising dengan pencapaian orang, mudah sekali merasa tertinggal. Tapi dalam maraton iman, Tuhan tidak memanggilmu untuk berlari dengan pace orang lain. Dia memanggilmu untuk setia di jalurmu sendiri. Jangan membandingkan pace 9-mu dengan pace 4 orang lain.
Drop Bag Beban Seorang Kipchoge tidak akan lari sambil menggendong ransel. Ibrani mengingatkan kita menanggalkan "beban dan dosa". Beban ini bisa berupa ekspektasi, candu validasi, kepahitan, atau dosa tersembunyi. Kamu tidak akan bisa lari jauh jika hatimu berat. Serahkan beban itu di kaki Salib.
Fokus pada Finishline Dalam marathon, ada yang disebut "hitting the wall": saat tubuh ingin menyerah total. Dalam hidup, ini bisa jadi saat doa belum terjawab, atau saat integritas kita diuji. Kuncinya? "Mata yang tertuju kepada Yesus." Dia adalah pacer, sekaligus medali di garis finis kita.
Guys, lelah itu wajar. Berhenti sejenak di water station (doa dan komunitas) itu perlu. Tapi jangan berhenti. Hidup ini bukan tentang siapa yang podium, melainkan siapa yang finish.
Yuk gas! Perjalanan masih panjang, tapi kamu tidak lari sendirian.