Pondasi yang Tidak Terlihat
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Ada orang yang ingin membangun rumah indah. Ia sibuk memilih warna cat, desain jendela, dan dekorasi terbaik. Semua terlihat sempurna dari luar. Tapi ia lupa satu hal: PONDASI.
Dan pondasi adalah bagian yang tidak pernah terlihat, tapi justru menentukan apakah rumah itu akan tetap berdiri. Sebelum kita memasuki komitmen dengan seseorang, Tuhan selalu menggali tanah hati kita terlebih dahulu.
Ia menggali area ego.
Ia menggali area ketidakamanan.
Ia menggali area luka lama yang belum sembuh.
Proses ini tidak instan. Dan sering kali menyakitkan. Seperti tukang bangunan yang harus menggali tanah dalam-dalam sebelum menuangkan beton, Tuhan pun kadang menggali bagian hati kita yang selama ini kita tutupi. Ia tidak melakukan itu untuk mempermalukan, tapi untuk memperkuat.
Saat semuanya manis, tidak terlihat bedanya mana yang dibangun di atas batu dan mana di atas pasir. Chemistry terasa kuat. Perasaan hangat. Harapan tinggi. Tapi badai pasti datang, Konflik, Perbedaan prinsip, Ekspektasi yang tidak terpenuhi, Ego yang berbenturan Dan di situlah terlihat pondasinya.
Pondasi hubungan bukan rasa nyaman. Bukan juga sekadar cocok. Pondasinya adalah karakter dan relasi kita dengan Tuhan.
Ketika dua individu bersatu dalam komitmen yang berakar di dalam Tuhan dan berpusat pada Injil, badai tetap mungkin datang. Tetapi mereka tidak akan runtuh, karena anugrah dan penyertaan Tuhan menjadi pondasi yang menopang mereka.