Ngelunjak
“For the wages of sin is death, but the free gift of God is eternal life in Christ Jesus our Lord.” -Romans 6:23 (NIV)
Pernah kah kita mendengar berita tentang pembunuh yang sudah tertangkap basah, namun di ruang pengadilan, keluarga korban malah memaafkan pelakunya? Biasanya muncul adegan peluk-pelukan dengan tangis haru dari kedua belah pihak. Kisah real-life yang mengharukan. Mengapa? Karena sang pelaku tidak menerima konsekuensi yang seharusnya ia terima. Harusnya hepi ending kan? Semua berharap, sang pelaku bertobat karena telah menerima grace. Namun kenyataannya, tidak jarang juga orang-orang yang sudah menerima grace itu, tetap balik lagi melakukan pola hidupnya yang semula.
This kind of thing applies to all situation. Mama maafin anaknya yang nakal, eh bandel lagi besoknya. Guru kasih PR gak dikerjain, dikasih tugas remed supaya nilainya tidak nol, eh tugas berikutnya tidak dikerjakan lagi. Dan lain sebagainya. Dalam bahasa Yunani, ini namanya “ngelunjak”. Ungkapan Ibrani-nya, “dikasih hati, minta jantung.”
Selama ini, mungkin kita sudah aware definisi dari “grace”, that is, undeserving gifts. Grace itu selalu merefleksikan sang pemberi, bukan sang penerima hadiah tersebut. Kisah Natal adalah demikian. Kita menerima hadiah Yesus, bukan karena kita pantas, tapi karena God The Father is GRACIOUS and KIND to us.
Dia minta maaf, atas kesalahan yang tidak Dia lakukan. Lalu kadang malah kita yang susah maafin orang. Berapa banyak dari kita yang sudah tahu hal ini, diajarin sejak sekolah minggu, tapi tetap hidupnya tidak mencerminkan worship yang sejati?
Yes, the story of Christmas is about His grace through Jesus. Namun pada saat yang sama, kisah Natal juga terjadi karena kita sebagai manusia, ngelunjaknya keterlaluan. Be aware of this. Be thankful for Him.
“But God demonstrates his own love for us in this: While we were still sinners, Christ died for us." -Romans 5:8 (NIV)
Christmas is a story about The Giver, not the gift itself.