True Essence of Christmas

Banyak dari kita tahu bahwa Natal adalah tentang kelahiran Yesus. Namun, apakah langkah selanjutnya? Respon kita selanjutnya menentukan apakah kita benar-benar memahami esensi Natal. Yohanes 3:16 mengingatkan bahwa Tuhan memberi kita hadiah terbesar, yaitu Yesus, bukan sebagai rencana cadangan, melainkan sebagai rencana awal-Nya untuk menyelamatkan manusia. Kasih-Nya begitu besar dan serius, hingga Ia rela mengorbankan Anak-Nya demi kita, disaat kita sebetulnya tidak layak menerima itu semua, disaat Tuhan mengetahui betul bahwa manusia akan berbuat dosa. 

Jika kita menerima hadiah sebesar itu, bagaimana kita merespons? Tentu, kita tidak bisa membalas sebanding, tetapi apakah kita sudah mengusahakan yang terbaik kita untuk Tuhan? Apakah kita sudah se-serius itu juga untuk Tuhan? Di akhir tahun ini, mari kita selidiki hati kita:

1. Apakah kita mengasihi Tuhan?
Yohanes 14:15-24 mengajarkan bahwa bukti kasih kepada Tuhan adalah menaati firman-Nya. Untuk mengenal-Nya, kita harus membaca Firman-Nya.

2. Apakah Tuhan cukup bagi kita?
Tuhan melayakkan kita meskipun kita tidak layak. Apakah kita memandang Tuhan sebagai segalanya? Apakah kita benar-benar dapat berkata “You are worthy of it all”?

3. Apakah hidup kita memuliakan Tuhan?
Kolose 3:23 mengingatkan bahwa segala sesuatu harus dilakukan untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Hidup kita seharusnya mencerminkan karakter Kristus sehingga orang lain dapat melihat Tuhan dalam diri kita (1 Yohanes 2:6). Tanyakan kepada 5 orang terdekatmu, apakah mereka dapat melihat karakter Kristus di dalam kamu? 

Jangan sampai kita terjebak dalam FAMILIARITY dan jadi take everything for granted. Jangan sampai karena Tuhan selalu mengasihi kita, kita jadi menganggap hal tersebut adalah biasa. Setiap hari adalah kesempatan untuk memuliakan Dia melalui tindakan, pikiran, dan hati kita. Respon kita terhadap kelahiran Yesus menentukan apakah kita benar-benar memahami esensi Natal.

Previous
Previous

Christmas Not Just a Celebration

Next
Next

Ngelunjak