Gratis is Priceless
Gratis bukan berati gak berharga. Dibebas wajib bayarkan, bukan berarti apa yang diberikan cuma-cuma jadi kehilangan nilai-nya.
Contoh:
Kita punya I Phone seharga 15 juta. Baik itu dibeli dengan uang sendiri atau dikasih orang gratis, harga 15 juta-nya nggak jadi hilang, justru malah nambah, karena ada nilai pengorbanan yang dilakukan secara sukarela dari si pemberi. (ngerti kata "secara sukarela" dirasa irelevan di dunia yang sangat transaksional ini, tapi kita renungkan point ini di next devotion ya,, hehe).
Yang dihighlight dari contoh ilustrasi diatas adalah gambaran sederhana terkait apa yang Tuhan sudah berikan secara "gratis" untuk kita semua—yakni hidup Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Dia berikan hidup anak-Nya, supaya kita bisa hidup sebagai anak-anak Allah.
Hal yang sama untuk nilainya, nilai keselamatan gak malah jadi berkurang apalagi hilang, karena Tuhan memilih untuk beri "gratis". Maut tetap jadi harga yang harus dibayar, bahkan lebih dari itu, Dia rela lepas jubah kemuliaan-Nya, lahir di kandang domba, dan memberikan hidup-Nya di kayu salib untuk kita (taruh tangan di dada, rasakan detak jantungmu... itulah harga yang sudah dibayar).
Bahkan sampai hari ini pun, Tuhan masih harus menanggung olok-olok manusia tentang keputusan-Nya untuk memberi kita keselamatan "GRATIS":
"Kok Tuhan beranak ?"
"Kok Tuhan jadi manusia?"
"Kok Tuhan mati ?"
Natal, jadi momentum baik untuk kita kembali merenungi soal harga "KESELAMATAN" yang kita terima secara "GRATIS" itu—yang tak pernah jadi murah, apalagi tak berharga.
Natal, jadi momentum baik untuk kita kembali menyadari kalo hidup kita ini "GAK MURAHAN", dan "BERHARGA" (taruh tangan di dada, rasakan detak jantungmu... itulah harga yang sudah dibayar).
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
Living your precious life, fellas !