Packaging Cakep?

“And the Word became flesh and dwelt among us, and we beheld His glory, the glory as of the only begotten of the Father, full of grace and truth.” - John 1:14 (NKJV)

Siapa di sini yang pernah beli sesuatu yang bungkusnya keren, entah dari segi designnya ataupun bahan material bungkusannya, tapi ternyata kecewa berat ketika tahu bahwa isinya itu zonk banget? Beli make-up yang marketingnya keren, tapi ternyata di dalamnya terkandung mercury. Branding fashion yang tjakep, tapi ternyata waktu dipesan online dan datang barangnya, jelek banget. Pasti setidaknya pernah sekali saja deh.

Atau sebaliknya? Ekspektasinya sudah low banget karena barangnya murah dan design packaging-nya jelek. Eh tapi ternyata bagus banget? Atau ke restoran lokal tanpa iklan di sosmed / food influencer, tapi ternyata hidden gem yang beneran “hidden”? Pasti pernah juga setidaknya sekali dalam hidup.

Bagaimana dengan manusia? Jelas ada. Di iklan, berwibawa dan baik, tapi ketahuan kasus KDRT. Di mimbar, menyentuh hati banget khotbahnya, tapi ternyata di rumah bikin nangis keluarga tiap hari. Jangan sampai kita menjadi anak Tuhan yang seperti itu. Sebaliknya, 2000 tahun lalu, orang-orang Israel ekspek kelahiran “Mesias” yang akan membebaskan mereka dari penjajahan yang sedang mereka alami. Seorang “leader” yang perkasa dan berkharisma. Namun, yang datang? Bayi dari orang tua yang tidak terkenal, melahirkan pun di tempat hewan ternak tidur. Wajar kah rakyat pada masa itu tidak mau percaya Yesus? Wajar banget. Soalnya packagingnya... Tidak oke.

Namun, seperti yang kita semua ketahui. From the innocent and raggedy looks of the Child, came our Grace personified. Through Him, our relationship with God, restored. Lalu, apa peran kita? Pastikan dengan siapapun kita berinteraksi, mereka dapat merasakan kualitas “isi” hidup kita yang sudah diubahkan dari Anak yang dianugerahkan oleh Bapa itu sendiri. This is the essence of Christmas, and being a Christian.

Previous
Previous

One for All, All for One

Next
Next

Christ Himself