Natal: Pelanggaran Protokol Karantina
Dalam dunia manajemen krisis, aturan saat menghadapi wabah adalah isolasi. Jika ada virus mematikan, kita memakai baju hazmat, melakukan lockdown, dan memisahkan yang sakit dari yang sehat. Tujuannya adalah mitigasi risiko total: pastikan yang sehat tidak terkontaminasi yang sakit.
Bayangkan seorang dokter yang memiliki darah yang bisa menjadi vaksin untuk wabah global. Namun, alih-alih menyuntikkannya dari balik kaca pengaman atau mengirim drone, dokter ini memilih masuk ke bangsal isolasi tanpa masker, tanpa pelindung, dan membiarkan dirinya terpapar, disentuh, dan diludahi oleh pasien yang sekarat. Bagi standar medis dan manajemen risiko, ini adalah tindakan bodoh. Ini adalah malpraktik prosedur keselamatan. Anda tidak menyelamatkan orang tenggelam dengan ikut menenggelamkan diri, kan? Logika dunia berkata: jaga jarak aman.
Namun, Natal adalah momen di mana Tuhan melanggar semua protokol keamanan ilahi.
Kekudusan Tuhan seharusnya menjauhi dosa, tapi Tuhan melakukan sebaliknya. Inkarnasi Kristus adalah pelanggaran karantina terbesar dalam sejarah.
Tuhan tidak mengirimkan instruksi dari Surga yang steril. Dia turun sebagai bayi, bentuk kehidupan yang paling rentan terhadap bakteri, kuman, dan ancaman fisik. Dia masuk ke dunia yang terinfeksi dosa tanpa baju hazmat keilahian yang menyilaukan.
“Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka...”
Natal mengajarkan kita bahwa solusi Tuhan untuk dosa kita bukanlah distance management, melainkan radical immersion.
Jika Tuhan saja turun menanggung risiko reputasi dengan lahir di kandang dan mati di kayu salib demi kita, mengapa kita begitu sibuk memoles citra dan membangun tembok kudus agar terlihat sempurna?
Jangan mitigasi dosamu dengan jarak dan kemunafikan religius. Biarkan Sang Dokter Agung yang telah melanggar karantina itu menyentuh lukamu yang paling infeksius.