Self-love and Self-awareness
Sebelum kita dapat mengasihi orang lain, kita perlu terlebih dahulu mengasihi diri sendiri. Namun, kasih terhadap diri yang diharapkan Tuhan bukanlah sikap egois (self-absorbed), melainkan kasih yang sejati (self-love). Sikap egois membuat kita hanya berfokus pada kepentingan pribadi, sedangkan kasih yang sejati akan selalu menghasilkan kasih terhadap sesama.
Kita akan terdorong untuk mengasihi orang lain sebagaimana Tuhan mengasihi kita ketika kita memiliki kesadaran diri yang benar (“tahu diri”). Mengasihi diri sendiri berarti menyadari bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang berharga di mata-Nya. Namun, di saat yang sama, kita juga harus menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah karena kasih karunia Tuhan. Sayangnya, manusia sering kali lupa diri, menganggap diri mereka cukup baik dan layak menerima kebaikan serta kasih karunia Tuhan. Padahal, kita semua adalah manusia berdosa dan keselamatan hanya datang melalui kasih karunia-Nya. Kita tidak dapat mengklaim diri kita sebagai orang yang baik atau benar, karena hanya Tuhan yang berhak menyatakannya.
Lalu, bagaimana kita dapat menerima kasih karunia Tuhan dengan benar? Dengan menghasilkan buah. Salah satu buah yang paling utama adalah kasih. Ketika kita mengasihi sesama, mereka akan dapat melihat karakter Kristus di dalam diri kita.
Mintalah kepada Tuhan hikmat dan kekuatan untuk selalu mengasihi sesama, karena tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu mengasihi seperti Kristus. Seperti tertulis dalam Yohanes 15:5:
"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."