Pernikahan: Dari Janji Indah ke Realita Pahit?
1 Korintus 13:4-7
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan, ia tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak marah, ia tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Pernikahan adalah panggilan suci yang dibangun atas kasih sejati. Kasih dalam pernikahan bukan hanya perasaan, tetapi keputusan untuk tetap setia meski menghadapi masalah. Kasih yang sabar dan murah hati, yang tidak mencari keuntungan diri sendiri dan tidak menyimpan dendam, adalah fondasi pernikahan yang sehat.
Ketika pernikahan penuh dengan amarah, ketidakpercayaan, atau rasa sakit yang terus-menerus, ini adalah waktu untuk merenung. Kasih yang sejati menutupi segala kekurangan dan tidak bersukacita dalam ketidakadilan. Jika pernikahan lebih banyak membawa air mata daripada doa, lebih banyak luka daripada pemulihan, saatnya untuk mencari pemulihan di dalam Tuhan. Kembali kepada-Nya dan cari bimbingan rohani untuk menemukan cara menyelesaikan masalah dengan kasih yang sejati.
Bagi yang belum menikah, jangan terburu-buru mengambil langkah. Pernikahan bukan hanya janji di altar, tapi pertempuran seumur hidup antara bertahan atau menyerah. Jika hubunganmu penuh manipulasi, pengabaian, atau amarah yang tidak terkendali, renungkan dengan hati-hati sebelum melangkah lebih jauh. Cinta yang sejati bukan hanya perasaan, tetapi keputusan untuk mencintai dengan kasih yang sabar, murah hati, dan tidak egois.
Pernikahan bisa menjadi surga di bumi atau neraka yang kamu ciptakan sendiri. Jika pernikahan adalah kapal, pastikan Kristus adalah nahkodanya. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga kekekalan.