Hatimu Untuk Siapa ?

Bayangkan hatimu seperti sebuah rumah. Rumah itu memiliki satu pintu utama dan beberapa ruangan. Sekarang, pertanyaannya adalah: Siapakah yang menjadi pemilik rumah hatimu? Apakah kamu membiarkan Tuhan masuk dan tinggal di setiap ruangan, atau justru kamu menyimpan beberapa ruangan untuk dirimu sendiri, untuk kesenangan duniawi, atau untuk hal-hal lain yang kamu anggap penting?

Tuhan ingin menjadi pemilik sepenuhnya atas rumah hatimu. Dia tidak ingin hanya menjadi "tamu" yang dipersilakan masuk sesekali. Dia ingin tinggal di setiap ruangan, membersihkannya, dan mengisinya dengan kasih, damai sejahtera, dan kebenaran-Nya. Namun, seringkali kita justru menyimpan beberapa ruangan untuk hal-hal yang kita anggap berharga: harta, karir, hubungan, atau bahkan keinginan pribadi. Kita berpikir bahwa kita bisa membagi hati kita antara Tuhan dan dunia, tetapi firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan.

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.
— Matius 6:24 TB

Memberikan seluruh hati kepada Tuhan berarti membiarkan Dia menguasai setiap aspek hidup kita. Ini bukanlah hal yang mudah, karena seringkali kita INGIN memegang kendali atas hidup kita sendiri. Namun, ketika kita menyerahkan seluruh hati kita kepada Tuhan, kita akan mengalami kebebasan sejati. Kita tidak lagi dibebani oleh kekhawatiran, karena kita tahu bahwa Tuhan yang memegang kendali. Kita juga akan mengalami sukacita yang melimpah, karena hidup kita diarahkan oleh kasih-Nya yang sempurna.

Previous
Previous

Hidup Totalitas Sebagai Persembahan Yang Hidup

Next
Next

Favor