Main Aman
“Lebih baik main aman daripada gagal”
Kalimat diatas ini bisa saja sering atau bahkan sedang kita pikirkan. Tanpa sadar pemikiran seperti ini membatasi diri kita untuk mencoba mengembangkan diri.
"Mau melayani di gereja sih, tapi aku takut nggak cukup mampu. Lebih baik jadi jemaat biasa aja."
"Aku sebenarnya punya ide bagus untuk proyek ini, tapi takut dikritik atasan. Ya udahlah, diem aja."
"Aku nggak mau coba posisi baru di kantor, takut nggak bisa dan malah gagal."
Kita merasa bahwa tetap berada di zona nyaman adalah pilihan terbaik. Kita takut gagal, takut dikritik, atau takut tidak cukup mampu. Namun, jika kita terus berpikir seperti ini, bagaimana kita tahu bahwa Tuhan ingin mengerjakan hal yang besar dalam hidup kita?
“Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kau berikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.”
Kisah dari ayat diatas sudah sering kita dengar bahkan sejak sekolah minggu. Tapi banyak dari kita tanpa sadar sedang menjadi hamba yang malas itu, kita bersembunyi dibalik perasaan “tidak layak” padahal mungkin sebenarnya kita sedang memilih untuk berada di zona nyaman dan tentu saja itu adalah penolakan untuk bertumbuh.
Padahal, kalau soal layak atau tidak, tentu sebenarnya tidak ada satupun yang layak, dan Tuhan tahu itu. Tuhan tidak mencari yang layak, tapi yang mau.
Jadi berhentilah bersembunyi di ruang aman mu, sayang sekali di hidup yang singkat ini apabila kita lalui dengan tidak mengusahakan secara maksimal potensi yang sudah Tuhan percayakan.