Menjaga Hati di Kilometer Nyaman
“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”
Dalam lari marathon, ada fase yang menipu, biasanya di antara kilometer 20 hingga 28. Di titik ini, kaki sudah panas namun belum terlalu lelah, napas sudah teratur, dan adrenalin masih memuncak. Pikiran kita sering berkata, “Ini mudah. Saya lebih kuat dari yang saya duga. Saya bisa mempercepat pace sekarang.”
Ini adalah momen kritis sebelum bahaya yang sesungguhnya: “The Wall” (tembok kelelahan mendadak) yang biasanya menunggu di kilometer 30 ke atas.
Pelari yang bijak tahu bahwa perasaan “kuat” di pertengahan lomba bukanlah sinyal untuk menjadi sombong atau gegabah, melainkan panggilan untuk disiplin. Jika kita menghabiskan tenaga karena merasa hebat di awal, kita akan hancur di akhir.
Demikian juga dalam kehidupan rohani. Seringkali kita berada di musim yang nyaman. Pelayanan lancar, karier baik, dan masalah terasa jauh. Di saat inilah kita paling rentan merasa bahwa kita “berdiri teguh” karena kekuatan kita sendiri. Kita mulai melupakan disiplin doa, mulai meremehkan dosa-dosa kecil, dan melupakan ketergantungan kita pada anugerah Tuhan.
Ayat di atas mengingatkan kita untuk waspada justru saat kita merasa kuat. Ketahanan (endurance) dalam iman bukan hanya soal bagaimana kita bangkit saat jatuh, tetapi bagaimana kita menjaga “pacing” kerendahan hati saat kita sedang di atas.
Sebelum “tembok” persoalan itu datang, dan ia pasti akan datang, pastikan Anda tidak lari dengan kekuatan daging sendiri. Tetaplah tenang, tetaplah bergantung pada Tuhan, dan simpan tenagamu untuk menyelesaikan pertandingan dengan setia sampai garis akhir.