Tatapan yang Menentukan Garis Akhir

Bayangkan seorang pelari marathon yang berdiri di garis start. Ia sudah mendaftar. Nomornya sudah terpasang. Ia secara resmi ikut lomba.
 Namun perlombaan ini tidak dimenangkan oleh siapa yang terdaftar, melainkan oleh siapa yang tetap berlari dengan fokus sampai akhir.

Iman kita pun demikian. Iman itu bukan hasil usaha kita. Tuhanlah yang meletakkannya di dalam hati kita, dan Dia juga yang sanggup membawa kita sampai garis akhir. Namun bagian kita adalah menjaga arah pandangan.

Dalam marathon iman, distraksi datang tanpa henti:
 keraguan tentang panggilan,
 perbandingan dengan orang lain,
 ketakutan apakah jalan yang kita tempuh benar,
 bahkan hal-hal baik yang perlahan mengambil tempat Tuhan.

Seperti yang tertulis di 1 Korintus 9:24, setiap langkah, setiap disiplin, setiap penyangkalan diri, semua dilakukan dengan kesadaran akan tujuan kekal. Seorang pelari serius tahu bahwa kemenangan tidak ditentukan di hari lomba, tetapi di hari-hari latihan yang tidak terlihat. Ia menahan diri, mengatur pola hidup, dan melatih tubuhnya, bukan karena lomba itu ringan, tetapi karena hadiahnya berharga.

Demikian juga kita. Keselamatan memang adalah anugerah, tetapi anugerah tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita pasif. Anugrah bukan izin untuk berbuat dosa, bukan alasan untuk terus jatuh. Anugrah adalah kuasa untuk bangkit dan berlari dengan benar.

Itulah sebabnya perlombaan iman ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, melainkan kepada siapa mata kita tertuju.

Bukan tentang seberapa hebat usaha kita, tetapi seberapa teguh kita memandang kepada Yesus.

Hari ini, Tuhan tidak meminta kita berlari membandingkan diri dengan orang lain. 
Ia hanya meminta satu hal: “FIX YOUR EYES UPON JESUS.” Karena tatapan kita akan menentukan arah langkah kita dan arah langkah kita akan menentukan garis akhir kita.

Next
Next

Flight Mode: Faith