Tuan Ku, Perut Ku

Tanpa sadar, banyak dari kita hidup seolah tujuan akhirnya adalah kenyamanan hari ini, bukan kekekalan bersama Tuhan. Kita bilang Tuhan adalah Tuan kita, tapi sering kali yang benar-benar kita turuti justru keinginan diri sendiri. Apa yang menyenangkan daging, itu yang diikuti. Apa yang menuntut pengorbanan, itu yang dihindari.

Sumber masalahnya sering kali bukan keadaan, bukan orang lain, tapi hati kita sendiri. Hati yang penuh berhala, hal-hal yang kita utamakan lebih dari Tuhan. Dosa yang sama kita kompromikan lagi dan lagi. Kita tahu itu salah, tapi kita terus melakukannya. Kita berdamai dengan apa yang seharusnya diperangi.

Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging.
— Galatia 5:17

Tapi kabar sukacitanya, Yesus menyelamatkan kita bukan hanya dari hukuman dosa, tapi juga dari diri kita sendiri, dari hati yang menipu, dari keinginan yang menghancurkan, dari hidup yang berpusat pada “aku”.

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
— 1 Korintus 6:20

ari ini Tuhan mengundang kita untuk berhenti memanjakan daging dan mulai serius memerangi apa yang menjauhkan kita dari Dia. Bukan dengan kekuatan sendiri, tapi dengan kesadaran bahwa hidup ini bukan milik kita lagi. Kita sudah dibeli, dan tujuan akhirnya bukan kenyamanan sesaat, melainkan kekekalan bersama Tuhan. Jadi pilihannya jelas: terus menuruti perut, atau sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai Tuan dan Raja kita.

Next
Next

Tatapan yang Menentukan Garis Akhir