Finish Line

Belakangan ini, budaya lari jadi anomali besar sampai lintas generasi. Dan Marathon jadi salah satu ajang bergengsi yang jadi inceran banyak pecinta lari.

Marathon sendiri lebih dari sekadar lari. Marathon itu panggung bagi mentalitas, disiplin, dan daya tahan. Tapi pada akhirnya, semua itu hanyalah 'tools' yang membawa kita sampai ke finish line.

Namun pertanyaan krusialnya adalah: Mengapa kita harus melakukannya? Kenapa kita perlu capek-capek berkomitmen, konsisten, dan setia dalam "Marathon" ?. Karena tanpa jawaban "kenapa" yang clear, kita cuma lagi lari tanpa ujung yang pasti, bak running from reality, hehe.

Tema besar NWIC sendiri, dari 'Life With Purpose' to 'The Marathon' itu bak life time sequence. Karena, kita bisa aja doing marathon, tapi gak akan pernah benar-benar bisa menyelesaikannya, kalo gak ada "life purpose" as FINISH LINE-nya.

Terus, gimana cara kita menentukan finish line ini? Secara teknis, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk set finish line dalam konteks karier misalnya:
1. Find your strengths and master it!,
2. Chart your career journey and set your goals.
3. Understand the requirements for every level of your progress.

Namun, core dari aspek teknis tadi adalah menemukan "siapa diri kita" di dalam Sang Pencipta, Yesus Kristus:
1. Jadilah pribadi yang bertanggung jawab atas setiap hal kecil yang Tuhan percayakan di tangan kita saat ini. Do it with faithfulness and gratitude!,
2. Sadari kalo berkat itu titipan, bukan upeti. Tuhan tidak sedang menyembah kita dengan memberi berkat; Dialah yang mestinya kita sembah. So, when God trusts us with a blessing, be a good steward of it!

Nah, kalo dalam marathon nyata itu ada medali di garis finish, lantas dalam marathon kehidupan kita: Medali seperti apa yang sebenarnya sedang kita kejar?

Find your purpose, then do your marathon. Biarlah setiap peluhmu menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan.

Next
Next

Bukan Lagi Balapan sama "Feed" Orang Lain