Running With Heavy Legs but a Steady Heart

Kadang bagian paling sulit dari marathon bukan saat mulai, tapi saat tubuh sudah lelah dan jarak masih panjang. Kaki terasa berat. Nafas mulai tidak teratur. Pikiran mulai berbisik, “Udah cukup. Pelan aja. Berhenti aja.”

Begitu juga perjalanan iman. Ada musim dimana kita tetap berjalan bukan karena kuat, tapi karena tidak mau berhenti percaya.

Banyak orang berpikir hidup bersama Tuhan selalu penuh semangat, penuh kemenangan cepat, penuh mujizat instan. Tapi kenyataannya, sebagian besar perjalanan rohani justru seperti kilometer tengah marathon: sunyi, melelahkan, dan penuh pergumulan batin.

Ada hari dimana doa terasa hampa. Ada fase dimana jawaban Tuhan seperti tertunda. Ada musim dimana kita tetap taat meski tidak melihat hasil apa-apa.

Di titik itu, yang Tuhan latih bukan kecepatan kita, tapi hati kita.

Marathon rohani mengajarkan satu hal penting: Tuhan lebih peduli pada ketahanan daripada performa. Saat kaki berat, kita belajar rendah hati. Saat langkah melambat, kita belajar bergantung. Saat ingin menyerah, kita belajar percaya tanpa syarat.

Mazmur 37:23 bilang bahwa langkah orang benar diteguhkan Tuhan. Bukan berarti jalannya selalu ringan, tapi Tuhan menjaga supaya kita tidak jatuh walau tertatih. Kadang kita tetap jalan dengan iman yang kecil. Kadang kita tetap setia dengan hati yang gemetar. Kadang kita tetap percaya sambil membawa lelah, kecewa, bahkan air mata. Dan justru di situlah ibadah yang paling murni terjadi. Bukan saat kita kuat, tapi saat kita tetap memilih Tuhan meski sudah tidak punya tenaga. Karena iman sejati bukan tentang berlari cepat di awal. Tapi tentang menjaga hati tetap teguh sampai akhir.

Keep running, even with heavy legs. Asal hati tetap steady, Tuhan tetap menyertai

Previous
Previous

Berlari di Track yang Tuhan Tetapkan

Next
Next

Finish Line