Seni Beristirahat: Agar Tak Tumbang di Maraton Iman
Dalam maraton, finisher-nya bukan siapa yang berlari paling cepat di awal, tapi yang paling mampu kelola energi sampai garis finis. Maraton butuh kesiapan fisik dan mental yang luar biasa sebelum mulai. Bahkan, disepanjang rute maraton selalu ada water station untuk istirahat. Kenapa? Karena manusia punya limit.
Berhenti sejenak di pos nggak berarti cupu, tapi strategi cerdas untuk recharge supaya bisa selesaikan maratonnya.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan jasmani dan rohani kita.
Kita pasti familiar sama penggalan lagu ini:
"Jangan lelah bekerja di ladang-Nya Tuhan."
Jangan dan gak bisa itu beda. Dan penggalan lagu ini validasi kalo melayani, sangat mungkin bisa lelah, tapi jangan sampe kelelahan (burnout). Melayani jiwa, join di berbagai departemen gereja, terus jaga integritas hidup sehari-hari, itu semua jelas nguras energi.
Ada perbedaan besar antara "lelah" dan "burnout". Lelah artinya sinyal tubuh butuh istirahat, kalo "burnout" sering kali kejadian, karena abai sama waktu istirahat!"Roh Kudus yang memberi kekuatan"
Jangan artikan berarti kita jadi "manusia super" yang nggak perlu tidur atau nggak butuh libur. Padahal, penyertaan Roh Kudus juga bekerja melalui hikmat.Hikmat untuk kita:
Manage Well: Atur prioritas, nggak semua beban mesti dipikul sendiri.
Recharge: Ambil waktu teduh dan istirahat fisik itu juga bentuk tanggung jawab kita sama "bait Allah" (tubuh kita).
Maintain: Jaga ritme hidup sehat, agar pelayanan bisa sustain.
Tuhan ciptakan Sabat bukan karena Tuhan lelah, tapi karena Tuhan ngerti kalo "kita butuh jeda". Kelola istirahat dengan baik itu juga bentuk taat dan bentuk kerendahan hati, kalo kita ini ya cuma alat, sementara Tuhan lah si sumber kekuatan absolut-nya.
Jadi, yok jadi pelayan yang prima dengan berani bilang "cukup" buat hari ini, dan beri ruang untuk jiwamu istirahat dibawah kaki-Nya. Kita perlu kekuatan baru setiap hari, buat bisa terus sustain dan selesaikan maraton iman kita.
Istirahat kalo lelah, ya!